Kamu (1)

November 2008

Pagi hari, aku bangun seperti biasa.

Tetapi, hari ini libur.

Aku gembira sekaligus sedih.

Gembiranya karena bisa istirahat dirumah.

Sedihnya karena aku nggak bisa lihat wajahmu yang seperti biasa selalu tersenyum.

Ahh… selalu saja.

Aku ingat, aku sudah menulis beberapa kata tadi malam.

Tapi, karena ketiduran, tidak aku lanjutkan kembali.

Aku ingin teh.

Sambil menunggu komputer menyala, ku seduh teh celup seperti biasa.

Sungguh, ritual pagi yang menyenangkan.

Komputer itu sudah menyala dan klik.

File cerita-cerita terbuka kembali.

Kemarin malam aku menulis ini:

‘Suatu pagi di daerah hujan…’

Oh… baru 1 kalimat ya.

Lalu apa?, Hmm..

Sejenak menutup mata dan memori itu pun muncul.

Aku jadi ingin menulis kejadian itu…

,,,,,

05.42

Kamu sampai di tempat biasa.

Tempat kamu menunggu aku dan aku menunggu kamu.

Di pojok sana kamu duduk atau bersandar ke tiang.

Menunggu aku yang jauh, jauh, jauh… masih jauh dari tempat kamu berpijak.

Kamu melihat sekitarmu, barangkali kamu melihat aku tengah berjalan ke arah mu.

Tetapi, aku tak ada.

Kamu bosan. Lalu membuka mushaf. Menghafal surat An-Naba.

05.52

Selesai 40 ayat dengan lagam.

Kamu longokkan kepalamu ke kanan.

Siapa tahu aku sudah datang dengan keadaan seperti biasanya,

mengangkat rok agak ke atas agar bisa berjalan cepat—setengah berlari

dan terengah-engah karena kehabisan nafas.

Kamu selalu tersenyum melihatku begitu.

Tetapi, aku belum juga datang.

Kamu gelisah dan akhirnya menghela nafas panjang.

Lalu membaca surat Ar-Rahman kesukaanmu dalam hati.

,,,,,

Teh di cangkir kesayangan itu sudah habis.

‘cepat sekali sih habisnya?’ gerutuku yang sedang asyik mengingat-ngingat.

Kali ini teh itu aku ganti dengan kopi krimmer warungan yang tak kalah enaknya dengan di café-café.

Aku mulai jadi pelupa karena terlalu sering minum kopi.

Ahh… sudahlah.

,,,,,

05.58

Kamu masih khidmat dengan hafalanmu dan kali ini aku datang dengan berlari.

Kamu melihatku, menyudahi hafalanmu dan tersenyum.

Tetapi aku merasa tak enak hati dan meminta maaf padamu berkali-kali.

Kamu hanya tersenyum dan tersenyum, kemudian kamu memulai pembicaraan kita.

Sambil menyebrang kita mengobrol.

Aku yang merasa bersalah dan tak enak hati,

bilang, ‘Kamu bosen ya sama aku?’

Sejenak kamu menatap wajahku dan membisu.

Kamu marah, dan bilang ‘Kok gitu sih?’

Kamu berlalu dan langsung naik angkot di terminal itu.

06.00

Kamu memilih duduk di pojok dekat pak supir.

Kamu duduk merapat supaya aku bisa duduk disebelahmu.

Tetapi, aku memilih duduk di dekat pintu.

Kamu kelihatan kecewa dan kesal.

Aku takut kamu tambah marah dan itulah yang terjadi.

Aku salah. Maafkan aku.

06.15

Di sepanjang jalan, aku terus memandangmu.

Cahaya matahari membiaskan sinarnya ke kelopak matamu.

Dan aku tahu kelopak itu bersinar karena air mata yang kamu tahan disana.

Aku tahu kamu menangis.

,,,,,

Sayup-sayup lagu berjudul Bizzare love triangle hadir,

dan merefreshkan lagi memori-memori yang sempat terlupa.

Kenapa? Jawabannya karena aku menyukai lagunya.

Dan semua hal yang kita sukai akan berujung ke kegembiraan atau barangkali duka haru.

Yang pasti semua akan menjadi lebih baik.

Dan itulah yang aku rasa selama dendang itu berputar.

‘Everytime I think of you

I get short right through into a bolt of blue

It’s no problem of mine but it’s problem I find

Living a life that I can’t leave behind…’

,,,,,

06.28

Kita sampai di tempat pemberhentian terakhir.

Seperti biasanya, aku keduluan kamu untuk membayarkan ongkos.

Lalu kamu berlalu.

Aku mengejarmu yang mencoba berjalan duluan.

Kamu masih marah, aku tahu itu.

Aku meminta maaf lagi.

Kamu bilang ‘iya’ dan mencoba untuk tersenyum.

Aku berkali-kali bilang ‘Maafin aku ya…?’

Kamu lagi-lagi tersenyum dan tak bilang apa-apa.

Kamu tetap berjalan cepat tanpa menurunkan kecepatan.

Aku ingin menangis. Aku sakit.

Kamu terlalu cepat untuk dikejar.

Putus asa, dan akhirnya aku berhenti.

06.38

Sampai di sekolah, gerbang belum ditutup.

Aku selamat.

06.45

Belum ada guru yang masuk ke kelas itu.

Lagi-lagi aku selamat.

Dengan lelah aku masuk ke dalam kelas.

Mengucap salam untuk teman sebangku.

Lalu duduk dan bersandar di tembok.

Aku menutup mata, ingin tidur.

Aku tak mau tahu apa-apa lagi.

,,,,,

Aku tersenyum setelah membaca huruf demi huruf yang tertera dilayar komputer.

Gimana ya reaksinya kalau dia baca ini?

Kursor kini berpindah ke gambar disket kecil di pojok kiri sana.

Lalu klik.

Huruf-huruf itu telah tersimpan dengan aman.

Seperti memori yang akan terus tersimpan dalam hati.

‘…Everytime I see you falling

I get down on my knees and pray

I’m waiting for that final moment

You say the words that I can’t say…’

Hmm…

Aku akan lanjutkan ini nanti.

To be continued…

Advertisements

3 responses to “Kamu (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: