Polling Selewat


What Color Your Blog Be??

Your Blog Should Be Blue (It’s mean my blog)

Your blog is a peaceful, calming force in the blogosphere.
You tend to avoid conflict – you’re more likely to share than rant.
From your social causes to cute pet photos, your life is a (mostly) open book.

Yup.. Katanya “My blog should be blue!!”

Lha.. Sebenernya agak aneh..
Kenapa??
Aku suka ungu, tapi biru juga ok lah..
tapi kok biru?
yaa.. ya udah lah yaa.
mau tahu apa warna blogmu??
tinggal klik kok!! :

Kamu (2)

Lagi.

Pagi ini aku bangun dan meneruskan kalimat terakhirku yang harus cepat-cepat aku tuntaskan.

Sambil mencoba bernyanyi, aku menyelesaikan tulisanku ini.

Aku jadi kangen.

‘…I do I do I do I do I do

Need you

I do I do I do I do I do

Think about you

There’s nothing more that I want

But you…’

Siangnya,

Kamu menungguku di tempat biasa.

Kali ini bukan dengan duduk atau besandar di tiang.

Tapi, kamu berjalan dari ujung jalan yang satu sampai ujung jalan lainnya.

Begitu, sampai kamu merasa lelah dan akhirnya berdiri di tepi jalan.

Aku ingat. Kamu sering kali menungguku seperti itu.

Dan aku jadi ingin menangis.

Karena kamu tidaklah bosan.

Kamu apa adanya.

Kamu…

,,,,,,

01.05

Hari ini mendung.

Hujan luruh dan menit-menit kemudian hujan menjadi bertambah deras.

Kamu cepat-cepat menyusulku ke tempat biasa.

Sebelumnya kamu ada pertemuan yang mengharuskan kamu lebih lama berada di sekolah.

Kamu takut aku menunggu terlalu lama.

Dan satu lagi, kamu tak ingin aku kehujanan.

01.15

Jaket abu mu basah.

Dengan setengah berlari kamu sampai di tempat.

Kamu mencari-cari ke sudut jalan.

Tetapi, yang dicari tidak ketemu juga.

Kamu beringsut karena kedinginan.

Dan bergumam, ‘Dia belum datang’.

01.30

Hujan makin deras.

Kamu jadi gelisah.

‘Apa dia sudah pulang?

Apa dia kesal karna aku terlalu lama?

Apa dia masih disana?’

Semua pertanyaan itu menyerubungimu.

Tetapi, kamu masih tetap menunggu.

01.40

Sekarang hujan telah berhenti.

Hanya saja masih gerimis.

Di ujung jalan sana kamu melihatku tengah berjalan.

Sedang kamu berada di ujung jalan satunya.

Aku melihatmu dan dengan cepat berjalan ke arahmu.

Kamu terlihat lega.

Tetapi, setelah itu kamu memalingkan mukamu ke arah lain.

Aku bertanya dalam hati, ‘Dia kenapa?’.

01.42

Aku mengucap salam dan kamu menjawabnya.

Aku meminta maaf dan menjelaskan semuanya.

Kamu hanya bilang ‘iya’ dan itulah yang membuatku tambah sedih.

Lagi. Aku bilang, ‘Kamu bosen ya sama aku?’.

Dan sudah tertebak apa yang terjadi?

Kamu marah lagi dan kali ini bilang, ‘ Kenapa sih?’.

Aku menunduk dan bilang, ‘Aku takut kamu bosan.’

‘Saya nggak akan pernah bosan sama kamu. Kenapa kamu masih nggak percaya?’

Setelah mendengar itu semua aku lega.

Ingin sekali memelukmu erat-erat dan tidak akan aku lepas lagi.

Tapi kamu masih kelihatan marah.

Dan berjalan sambil menendang-nendang batu.

Kamu kelihatan lucu sekali. Kayak anak kecil.

‘Kita baikan ya?’, kataku seraya memberikan tangan untuk bersalaman.

‘Memang kapan kita berantem?’.

Kamu bilang itu sambil tersenyum dan aku jadi ikut tersenyum juga.

,,,,,,

Kita pulang dengan mengobrol banyak hal.

Tentang aku dan kamu.

Tapi, aku belum tahu ruang kecil itu.

Benteng pertahananmu.

Atau mungkin aku memang tidak boleh tahu.

Ah… apapun itu..

Aku akan tetap menyayangimu.

Aku akan tetap percaya kamu.

Aku tak akan bosan denganmu.

Semoga kamu juga begitu.

‘…On this bright night

I wanna swear

I will always be there

By your side

This I promise you babe

That I will always

Treat you right

Cuz so many men I know

You’re the one that I love so true

Every Lil’ thing you did to me

No body else can do…’

Tamat.


Kamu (1)

November 2008

Pagi hari, aku bangun seperti biasa.

Tetapi, hari ini libur.

Aku gembira sekaligus sedih.

Gembiranya karena bisa istirahat dirumah.

Sedihnya karena aku nggak bisa lihat wajahmu yang seperti biasa selalu tersenyum.

Ahh… selalu saja.

Aku ingat, aku sudah menulis beberapa kata tadi malam.

Tapi, karena ketiduran, tidak aku lanjutkan kembali.

Aku ingin teh.

Sambil menunggu komputer menyala, ku seduh teh celup seperti biasa.

Sungguh, ritual pagi yang menyenangkan.

Komputer itu sudah menyala dan klik.

File cerita-cerita terbuka kembali.

Kemarin malam aku menulis ini:

‘Suatu pagi di daerah hujan…’

Oh… baru 1 kalimat ya.

Lalu apa?, Hmm..

Sejenak menutup mata dan memori itu pun muncul.

Aku jadi ingin menulis kejadian itu…

,,,,,

05.42

Kamu sampai di tempat biasa.

Tempat kamu menunggu aku dan aku menunggu kamu.

Di pojok sana kamu duduk atau bersandar ke tiang.

Menunggu aku yang jauh, jauh, jauh… masih jauh dari tempat kamu berpijak.

Kamu melihat sekitarmu, barangkali kamu melihat aku tengah berjalan ke arah mu.

Tetapi, aku tak ada.

Kamu bosan. Lalu membuka mushaf. Menghafal surat An-Naba.

05.52

Selesai 40 ayat dengan lagam.

Kamu longokkan kepalamu ke kanan.

Siapa tahu aku sudah datang dengan keadaan seperti biasanya,

mengangkat rok agak ke atas agar bisa berjalan cepat—setengah berlari

dan terengah-engah karena kehabisan nafas.

Kamu selalu tersenyum melihatku begitu.

Tetapi, aku belum juga datang.

Kamu gelisah dan akhirnya menghela nafas panjang.

Lalu membaca surat Ar-Rahman kesukaanmu dalam hati.

,,,,,

Teh di cangkir kesayangan itu sudah habis.

‘cepat sekali sih habisnya?’ gerutuku yang sedang asyik mengingat-ngingat.

Kali ini teh itu aku ganti dengan kopi krimmer warungan yang tak kalah enaknya dengan di café-café.

Aku mulai jadi pelupa karena terlalu sering minum kopi.

Ahh… sudahlah.

,,,,,

05.58

Kamu masih khidmat dengan hafalanmu dan kali ini aku datang dengan berlari.

Kamu melihatku, menyudahi hafalanmu dan tersenyum.

Tetapi aku merasa tak enak hati dan meminta maaf padamu berkali-kali.

Kamu hanya tersenyum dan tersenyum, kemudian kamu memulai pembicaraan kita.

Sambil menyebrang kita mengobrol.

Aku yang merasa bersalah dan tak enak hati,

bilang, ‘Kamu bosen ya sama aku?’

Sejenak kamu menatap wajahku dan membisu.

Kamu marah, dan bilang ‘Kok gitu sih?’

Kamu berlalu dan langsung naik angkot di terminal itu.

06.00

Kamu memilih duduk di pojok dekat pak supir.

Kamu duduk merapat supaya aku bisa duduk disebelahmu.

Tetapi, aku memilih duduk di dekat pintu.

Kamu kelihatan kecewa dan kesal.

Aku takut kamu tambah marah dan itulah yang terjadi.

Aku salah. Maafkan aku.

06.15

Di sepanjang jalan, aku terus memandangmu.

Cahaya matahari membiaskan sinarnya ke kelopak matamu.

Dan aku tahu kelopak itu bersinar karena air mata yang kamu tahan disana.

Aku tahu kamu menangis.

,,,,,

Sayup-sayup lagu berjudul Bizzare love triangle hadir,

dan merefreshkan lagi memori-memori yang sempat terlupa.

Kenapa? Jawabannya karena aku menyukai lagunya.

Dan semua hal yang kita sukai akan berujung ke kegembiraan atau barangkali duka haru.

Yang pasti semua akan menjadi lebih baik.

Dan itulah yang aku rasa selama dendang itu berputar.

‘Everytime I think of you

I get short right through into a bolt of blue

It’s no problem of mine but it’s problem I find

Living a life that I can’t leave behind…’

,,,,,

06.28

Kita sampai di tempat pemberhentian terakhir.

Seperti biasanya, aku keduluan kamu untuk membayarkan ongkos.

Lalu kamu berlalu.

Aku mengejarmu yang mencoba berjalan duluan.

Kamu masih marah, aku tahu itu.

Aku meminta maaf lagi.

Kamu bilang ‘iya’ dan mencoba untuk tersenyum.

Aku berkali-kali bilang ‘Maafin aku ya…?’

Kamu lagi-lagi tersenyum dan tak bilang apa-apa.

Kamu tetap berjalan cepat tanpa menurunkan kecepatan.

Aku ingin menangis. Aku sakit.

Kamu terlalu cepat untuk dikejar.

Putus asa, dan akhirnya aku berhenti.

06.38

Sampai di sekolah, gerbang belum ditutup.

Aku selamat.

06.45

Belum ada guru yang masuk ke kelas itu.

Lagi-lagi aku selamat.

Dengan lelah aku masuk ke dalam kelas.

Mengucap salam untuk teman sebangku.

Lalu duduk dan bersandar di tembok.

Aku menutup mata, ingin tidur.

Aku tak mau tahu apa-apa lagi.

,,,,,

Aku tersenyum setelah membaca huruf demi huruf yang tertera dilayar komputer.

Gimana ya reaksinya kalau dia baca ini?

Kursor kini berpindah ke gambar disket kecil di pojok kiri sana.

Lalu klik.

Huruf-huruf itu telah tersimpan dengan aman.

Seperti memori yang akan terus tersimpan dalam hati.

‘…Everytime I see you falling

I get down on my knees and pray

I’m waiting for that final moment

You say the words that I can’t say…’

Hmm…

Aku akan lanjutkan ini nanti.

To be continued…


Otak kita nihhh…

>>> Otak “kiri dan kanan”

>> Serebrum (korteks serebral)

Ber-evolusi : sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Sebutan umum : Otak kiri dan kanan.

Lokasi : membungkus seluruh otak, meluas ke seluruh daerah dahi.

Fungsi : Organisasi, ingatan, pengertian, komunikasi, kreativitas, pembuatan

keputusan, pembicaraan, musik, fungsi –fungsi spesifik lain termasuk

seluruh “keterampilan kortikal” dari “otak kiri dan kanan”.

Fakta yang menarik :

1. Serebrum adalah bagian terbesar otak kita.

2. Serebrum dibungkus oleh suatu lapisan bergelombang setebal 3 mm sel-sel saraf yang dikenal sebagai korteks serebral. Kehadiran korteks inilah yang membuat kita dikenali sebagai manusia.

3. Kedua belahan otak dihubungkan dengan jaringan kerja serabut saraf yang sangat halus dan rumit yang disebut corpus callosum; 300 juta serabut saraf ini membawa informasi ulang-alik di antara kedua belahan otak.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Profesor Roger Sperry, yang menerima Hadiah Nobel untuk karyanya, melakukan beberapa percobaan istimewa pada korteks serebral bersama Profesor Robert Ornstein. Mereka meminta para pelajar untuk melakukan beberapa tugas mental seperti melamun, menghitung, membaca, menggambar, berbicara, menulis, mewarnai bentuk, dan mendengarkan musik, sambil mengukur gelombang otak mereka.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Pada umumnya, korteks serebral membagi tugas ke dalam dua kategori utama—kiri dan kanan (lihat Gambar). Tugas kanan melliputi irama, kesadaran ruang, Gestalt (gambaran keseluruhan), imajinasi, melamun, warna, dan dimensi. Tugas kiri termasuk kata-kata, logika, angka, urutan, linearitas, analisis, dan daftar.

Riset yang berkelanjutan menunjukkan bahwa jika orang telah dilatih untuk menggunakan satu “sisi” otaknya dan mengasingkan sisi lainnya, maka mereka cenderung membentuk Kebiasaan-Kebiasaan Dominan. Mereka lebih memilih kegiatan yang dikendalikan oleh sisi otak yang telah dipilih dan menggambarkan dengan istilah-istilah tersebut.

Istilah-istilah yang kemudian berkembang adalah “akademik”, “intelektial”, dan “bisnis” untuk kegiatan-kegiatan belahan otak kiri. “Artistik”, “kreatif”, dan “intuitif” untuk kegiatan-kegiatan belahan otak kanan. Tetapi semua itu hanya mneggembarkan sebagian dari kenyataan yang sesungguhnya.

Riset Profesor Ornstein dan peneliti lainnya mengungkapkan bahwa kekuatan dan kelemahan yang berkelanjutan pada keterampilan kortikal seseorang lebih merupakan kebiasaan dan bukan merupakan rancangan dasar otaknya. Jika seseorang yang mempunyai kelemahan semacam itu dilatih pada area tersebut, maka tidak tidak diragukan bahwa mereka akan menjadi terampil dan kuat di wilayah itu. Lebih dari itu secara bersamaan, kinerja di area lainnya juga akan diperkuat! Misalnya, seseorang dengan keterampilan menggambar yang lemah dilatih untuk menggambar dan melukis. Maka penampilan akademis keseluruhannya akan meningkat terutama dalam bidang-bidang seperti geometri, di mana persepsi dan imajinasi berperan penting.

Sebuah contoh lain adalah keterampilan otak kanan untuk melamun yang sangat penting bagi ketahanan otak kita. Melamun memberi istirahat pada bagian-bagian otak yang telah banyak melakukan pekerjaan analisis dan pengulangan, melatih pemikiran projektif dan imajinatif, serta memberi kesempatan yang Anda perlukan untuk berintegrasi dan mencipta. Kebanyakan para jenius menggunakan tindakan melamun yang terarah untuk membantu menyelesaikan masalah, memproduksi ide, dan mencapai tujuan mereka.

Sayangnya, system pendidikan dunia di abad XX lebih memilih keterampilan “otak kiri”—matematika, bahasa, dan ilmu-ilmu pengetahuan eksakta—daripada seni, musik, dan pengajaran ketermpilan-keterampilan berpikir, terutama ketermpilan berpikir Pemikiran Kreatif. Dengan hanya memusatkan diri pada setengah keterampilan otak, maka kita hanya mencipta setengah jadi!

Tetapi kenyataannya situasi ini sebenarnya lebih buruk lagi. Seperti yang Anda tahu dari Prinsip Sinergi Otak, otak adalah suatu pengganda.

Sisi kiri dan kanan korteks serbral kita saling mengirim pesan ulang-alik di antara kedua belahan otak, menciptakan suatu rumusan Sinergis untuk pemikiran dan pertumbuhan. Dengan menghilangkan kemungkinan pertumbuhan yang menggandakan diri ini, maka yang diciptakan bukanlah setengah jadi, tetapi hanya 1 persen jadi!

Ini membuat riset terhadap para jenius besar menjadi bisa dimengerti. Kajian-kajian ini telah menunjukkan bahwa mereka menggunakan “kedua sisi”, “belakang dan depan” dan “atas/bawah”, sehingga Anda dapat menjelajah dan mngembangkan kejeniusan Anda.

(Dikutip dari How to get physically and mentally fit, Head Strong oleh Tony Buzan—Multi-million copy best-selling author)


Hidup

Hidup itu bukan hanya satu permasalahan saja

Tetapi suatu yang kompleks dan sulit dimengerti

Rumit untuk diperbincangkan

Tetapi mendebarkan dan penuh dengan misteri

Hidup itu seperti kita membangun sampan layar

Yang akan kita pakai untuk mengarungi suatau bahtera yang berliku

Dengan banyak tantangan dan ujian disetiap kita berlabuh dan pergi

Sampan layarnya dikokohkan dengan keyakinan akan tuhan

Keberanian akan menerima kenyataan

Kesederhanaan akan menerima hidup

Dan layarnya dibingkai dengan kebijaksanaan mengarungi adanya perbedaan

Perbedaan dari dua rival

Baik dan buruk

Benar atau salah

Yang keduanya berbeda

Mereka mencoba untuk menarik hati sang sampan layar untuk berlabuh di tempatnya masing-masing

Dan sampan layarpun harus memilih diantara keduanya sebagai tujuan

Begitulah, sampan layar harus punya tujuan dan tempat berlabuh yang paling akhir

Dan memilih apa yang akan menjadi jalannya untuk mencapai tempat berlabuh itu