03.01.09

Polling Selewat

Ditulis dalam Bebas pada 1:18 pm oleh fansdee

02.28.09

What Color Your Blog Be??

Ditulis dalam 1 pada 10:33 am oleh fansdee

Your Blog Should Be Blue (It’s mean my blog)

Your blog is a peaceful, calming force in the blogosphere.
You tend to avoid conflict – you’re more likely to share than rant.
From your social causes to cute pet photos, your life is a (mostly) open book.

What Color Should Your Blog or Journal Be?

Yup.. Katanya “My blog should be blue!!”

Lha.. Sebenernya agak aneh..
Kenapa??
Aku suka ungu, tapi biru juga ok lah..
tapi kok biru?
yaa.. ya udah lah yaa.
mau tahu apa warna blogmu??
tinggal klik kok!! :

12.06.08

Saat Semua Berujung Indah

Ditulis dalam Cerpen untuk bacaan sendiri pada 3:58 pm oleh fansdee

Hari ini aku putuskan untuk tidak bantu-bantu dekor stand kelas.

Bazaar memang event yang selalu menyita waktu para siswa khususnya panitia.

Mulai dari pra-event, event (hari H), sampai pasca event.

Dan besok adalah hari H-nya.

Aku tak mau datang.

Itu pilihan.

Bukan pertama kalinya aku begini.

Tahun lalu aku juga tidak datang di acara itu.

Entah tubuh, jiwa, atau pikiran yang menyuruhku tetap diam di rumah.

Yang pasti aku tak mau datang.

Jangan paksa aku.

Dulu From 2 With Love. Sekarang pun masih From 2 With Love.

Tapi mereka berbeda.

Yang satu menampilkan seni. Yang satu lagi menampilkan seni++ beserta ++ yang lainnya.

Aku tak perduli.

Tapi kadang untuk suatu hal yang tidak kita suka, akan ada hal yang kita sukai.

Apapun bentuknya. Bagaimanapun caranya.

Kamu tak tahu. Kamu tak pernah tahu.

Karena itu rencana Tuhan.

Sama halnya seperti aku yang juga tidak tahu.

Hari itu, tahun lalu, aku asyik sekali memandangi bola bulat merah di kejauhan.

Berharap matahari itu bersinar terang atau ia lenyap dan digantikan dengan turunnya hujan agar cuaca yang tidak kerasan ini cepat pergi.

Ya. Mendung. Aku tak suka mendung.

Seperti dipaksa untuk tidak memilih, padahal pilihan tersedia. Terik atau hujan.

Ah… Sudahlah.

Alih-alih melihat matahari itu terbang, aku tiba-tiba melihat satu lagi benda langit yang menarik perhatianku.

And it was fly’in!

Bukan. Bukan awan.

Bukan juga hujan atau petir atau bulan atau bintang atau UVO (what?) atau apapun yang pernah aku lihat.

Aku melihat semburan cahaya.

Ia seperti kristal–kristal kecil berwarna keperakan. Ia membuncah, menyebar, dan jatuh di tarik gravitasi.

Atau seperti amoeba yang bukan bergerak horizontal tetapi vertical ke bawah.

Atau seperti kunang-kunang yang bercahaya pada saat malam hari.

Atau seperti kembang api yang menari-nari dan mengeluarkan api-api kecil.

Tapi Ia bukan kristal atau kunang-kunang.

Karena kristal tak mungkin terbang dan kunang-kunang tak muncul di siang bolong.

Ia juga bukan amoeba atau kembang api.

Karena amoeba tidak ‘terbang-terbang’ dan tidak ada kembang api yang dinyalakan saat itu.

Ia hadir saat matahari membelakangi belahan bumi, menyinarinya.

Bukan malam hari saat matahari berada di belakang belahan bumi dan tak tampak cahayanya.

Tapi Ia ada dan tidak biasa. Ia tidak bisa digenggam.

Seperti ilusi memang.

Tapi satu yang membuat aku kagum.

Aku terus bisa melihatnya sampai sekarang.

Itulah salah satu hal yang aku sukai saat hari itu tiba.

Walaupun aku ogah-ogahan saat datang ke kelas lusanya.

Kelas dipenuhi dengan obrolan tentang event Bazaar kemarin.

Aku jadi tersingkir karena tak tahu apa-apa.

Pikiran mereka memang penuh sesak dengan memori-memori hari itu.

Yang mereka luapkan hari ini bersama-sama.

Walaupun mereka melupakan aku dan menganggap aku tak ada.

Tapi setidaknya pikiranku tidak kosong.

Karena pikiranku juga dipenuhi dengan hal lain.

Yang—sama halnya dengan mereka—ingin meluapkan banyak memori.

Kalian memang tahu cahaya itu.

Tapi bukan. Itu hanya ¼ memoriku saja.

Sisanya belum aku selesaikan ceritanya.

Sisa ¾ memori:

Tak hanya satu.

Tapi dua hal yang aku sukai saat sesuatu yang tidak aku suka hadir.

Dan yang kedua ini terus berlanjut sampai sekarang.

Sampai aku menulis tulisan ini dan akan terus berlanjut sampai nanti.

We hope.

Hari itu, tahun lalu, kita mulai berbaikan.

Padahal kita seperti musuh yang saling tidak suka dengan keberadaan masing-masing.

Sudah 3 bulan lebih kita seperti ini.

Karena sesuatu yang membuat hati kita sakit.

Kita saling menyakiti. Kita saling menggoreskan luka.

Tanpa tahu kapan semua kan berakhir.

Berhari-hari sebelum hari itu kuputuskan untuk membuka diri.

Aku merasa aku masih membutuhkanmu sebagai seorang sahabat.

Dan akhirnya aku memberimu sebuah buku 1hari sebelum event itu resmi di buka.

Menyimpannya dalam tas mu diam-diam saat kamu sibuk bantu-bantu dekor stand kelas.

Dan itu cukup untuk membuatmu memaafkanku dan mau jadi sahabatku lagi.

Sore itu.

Selesai aku menyimpan buku, aku kembali ke stand.

Stand itu berlantai dua. Dan aku melihatmu di sana.

Di stand atas kamu sibuk men-dekor dengan seorang teman perempuan di sampingmu.

Terlepas dari teman-teman yang juga memenuhi stand atas.

Kalian tampak akrab dan aku jadi ragu.

Si perempuan memang telah p-d-k-t dari pertama kali ia bertemu denganmu.

Teman-teman sekelas tahu. Dan aku pun tahu.

Aku berputar ke arah kelas karena tak mau melihat kalian.

Rasa sesak coba ku tahan sekuat tenaga.

Segera ku menutup mata untuk menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah.

Aku berlari. Aku ingin sendiri.

Aku kembali menekuri balon pikiranku lagi.

Sore digantikan dengan senja. Senja digantikan dengan malam.

Dan aku masih terus berpikir dengan balon pikiran yang sama.

Masalah yang sama.

Kekhawatiran yang sama.

Tentang orang yang sama.

Aku pulang setelah malam tiba.

Pukul 18.00 aku temui kalian di stand untuk meminta free pass.

Si perempuan masih sibuk dengan teman-teman yang lain.

Kamu diatas mencari-cari tumpukkan ID atau free pass yang ku minta.

Ketemu. Tapi kamu lama sekali mencari ID ku.

Aku yang di bawah akhirnya bilang: Sini biar aku yang cari. Maaf ya udah nge-ganggu.

Sinis. Tak acuh. Mungkin itu yang kamu rasa dari perlakuanku, dari tutur kataku, dari raut mukaku.

Tak tahukah kamu?

Barusan air mata yang membanjir, menyeret habis seluruh harapanku entah ke mana.

Dan akhirnya aku putuskan untuk berjalan tanpa harapan itu lagi. Tanpa kamu.

Jadi jangan heran kalau aku begitu.

Setelah ID ku dapatkan. Aku pamit pulang.

Di tengah jalan sampai aku berada di rumah perasaanku melayang.

Karena pemberat itu telah hilang.

Harapan, perjuangan, asa.

Tak ada yang bisa membuatku tetap tinggal di sini, di dunia ini.

To be Continued …

11.30.08

Kunci Hati

Ditulis dalam Prosa pada 3:48 pm oleh fansdee

Ketika kau merasa tersakiti

Dalam segenap pencarian jati diri dan cinta

Dan kau terjatuh lagi

Tertatih-tatih berdiri kembali

Melanjutkan harapan yang masih ada

Karena ruang itu masih bercahaya

Ketika kau tak kuasa

Untuk menumpahkan marah

Saat semua yang hadir melupakanmu

Menangislah

Kemudian tersenyumlah

Karena ruang itu masih ada

Ketika ingin kau akhiri segalanya

Segala yang pernah kau perbuat hanya sia-sia

Merenunglah

Karena kau tak sendiri

Ruang itu masih ada

Ruang itu butuh kunci

Untuk bersamamu arungi hidup

Bukalah…

Karena ia ada untuk mu

……

Lihatlah goresan tangan yang membuai relung jiwa..

Tulisan tangan Dewi Lestari dalam judul Kunci Hati

Dalam Raga ada hati, dan dalam hati ada satu ruang tak bernama. Ditanganmu tergenggam kunci pintunya.

Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. Berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani.

Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.

Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.

Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.

Di ruang kecil iti, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.

(Filosofi Kopi_Kunci hati(1998)_Dewi Lestari)

Kamu (2)

Ditulis dalam Cerpen untuk bacaan sendiri pada 3:40 pm oleh fansdee

Lagi.

Pagi ini aku bangun dan meneruskan kalimat terakhirku yang harus cepat-cepat aku tuntaskan.

Sambil mencoba bernyanyi, aku menyelesaikan tulisanku ini.

Aku jadi kangen.

‘…I do I do I do I do I do

Need you

I do I do I do I do I do

Think about you

There’s nothing more that I want

But you…’

Siangnya,

Kamu menungguku di tempat biasa.

Kali ini bukan dengan duduk atau besandar di tiang.

Tapi, kamu berjalan dari ujung jalan yang satu sampai ujung jalan lainnya.

Begitu, sampai kamu merasa lelah dan akhirnya berdiri di tepi jalan.

Aku ingat. Kamu sering kali menungguku seperti itu.

Dan aku jadi ingin menangis.

Karena kamu tidaklah bosan.

Kamu apa adanya.

Kamu…

,,,,,,

01.05

Hari ini mendung.

Hujan luruh dan menit-menit kemudian hujan menjadi bertambah deras.

Kamu cepat-cepat menyusulku ke tempat biasa.

Sebelumnya kamu ada pertemuan yang mengharuskan kamu lebih lama berada di sekolah.

Kamu takut aku menunggu terlalu lama.

Dan satu lagi, kamu tak ingin aku kehujanan.

01.15

Jaket abu mu basah.

Dengan setengah berlari kamu sampai di tempat.

Kamu mencari-cari ke sudut jalan.

Tetapi, yang dicari tidak ketemu juga.

Kamu beringsut karena kedinginan.

Dan bergumam, ‘Dia belum datang’.

01.30

Hujan makin deras.

Kamu jadi gelisah.

‘Apa dia sudah pulang?

Apa dia kesal karna aku terlalu lama?

Apa dia masih disana?’

Semua pertanyaan itu menyerubungimu.

Tetapi, kamu masih tetap menunggu.

01.40

Sekarang hujan telah berhenti.

Hanya saja masih gerimis.

Di ujung jalan sana kamu melihatku tengah berjalan.

Sedang kamu berada di ujung jalan satunya.

Aku melihatmu dan dengan cepat berjalan ke arahmu.

Kamu terlihat lega.

Tetapi, setelah itu kamu memalingkan mukamu ke arah lain.

Aku bertanya dalam hati, ‘Dia kenapa?’.

01.42

Aku mengucap salam dan kamu menjawabnya.

Aku meminta maaf dan menjelaskan semuanya.

Kamu hanya bilang ‘iya’ dan itulah yang membuatku tambah sedih.

Lagi. Aku bilang, ‘Kamu bosen ya sama aku?’.

Dan sudah tertebak apa yang terjadi?

Kamu marah lagi dan kali ini bilang, ‘ Kenapa sih?’.

Aku menunduk dan bilang, ‘Aku takut kamu bosan.’

‘Saya nggak akan pernah bosan sama kamu. Kenapa kamu masih nggak percaya?’

Setelah mendengar itu semua aku lega.

Ingin sekali memelukmu erat-erat dan tidak akan aku lepas lagi.

Tapi kamu masih kelihatan marah.

Dan berjalan sambil menendang-nendang batu.

Kamu kelihatan lucu sekali. Kayak anak kecil.

‘Kita baikan ya?’, kataku seraya memberikan tangan untuk bersalaman.

‘Memang kapan kita berantem?’.

Kamu bilang itu sambil tersenyum dan aku jadi ikut tersenyum juga.

,,,,,,

Kita pulang dengan mengobrol banyak hal.

Tentang aku dan kamu.

Tapi, aku belum tahu ruang kecil itu.

Benteng pertahananmu.

Atau mungkin aku memang tidak boleh tahu.

Ah… apapun itu..

Aku akan tetap menyayangimu.

Aku akan tetap percaya kamu.

Aku tak akan bosan denganmu.

Semoga kamu juga begitu.

‘…On this bright night

I wanna swear

I will always be there

By your side

This I promise you babe

That I will always

Treat you right

Cuz so many men I know

You’re the one that I love so true

Every Lil’ thing you did to me

No body else can do…’

Tamat.

Halaman berikutnya